Seharian ini saya diajak untuk berkeliling Ibu Kota. Selain urusan jalan-jalan, tampaknya tak ada agenda lain yang bisa saya lakukan di Jakarta. Sebelum beranjak pergi, saya sudah bisa membayangkan perasaan yang sama yang selalu menghinggapi saya ketika berada di Jakarta. Panas, penat, bosan, dan sumpek, salah satu perasaan yang selalu saya rasakan ketika berada di Jakarta. Namun hari ini berbeda dengan biasanya. Setibanya di Jakarta, perasaan yang ada justru takjub melihat kota yang semrawut itu.
Perjalanan pertama berkunjung ke Universitas Al Azhar Indonesia. Di sini saya menemui pembantu rektor I universitas tersebut. Sebenarnya ngobrolnya ngaler-ngidul. Saya hanya menjadi pendengar yang setia saja. Tapi perkataan sang pembantu rektor cukup menginspirasi saya. Tak hanya itu saja. Suasana di universitas tersebut cukup nyaman. Adem dan sedikit jauh dari kebisingan Ibu Kota. Jadi pengen kuliah di sini. Tapi kali ini saya masih ingat tak ada yang lebih indah dari Bandung.
Perjalanan kedua adalah berkunjung ke gedung DPR di bilangan Senayan, Jakarta. Ketika saya tiba, hujan sedang deras-derasnya mengguyur Jakarta. Hal yang membuat saya takjub adalah deretan mobil-mobil berplat depan RI dan mobil-mobil para jenderal, berjejer di depan salah satu gedung di DPR. Nampaknya tengah ada rapat di komisi III menyoal kasus Ambalat yang semakin panas saja belakangan ini.
Perjalanan saya lanjutkan ke gedung Departemen Pendidikan Nasional yang tak jauh dari gedung DPR. Setelah kembali ngobrol ngaler-ngidul di lantai 2 gedung C Depdiknas selama 3 jam, akhirnya kami beranjak kembali ke gedung DPR. Suasana Jakarta sore ketika itu, benar-benar indah. Sedikit adem dan jauh dari kesan panas dan sumpek, meskipun jalanan sudah beranjak Pamer Paha.
Sekembalinya ke gedung DPR, mobil berplat depan RI dan para jenderal sudah sirna dari tempatnya. Namun ada hal lainnya yang mengagumkan di tempat ini, yaitu gerombolan wartawan yang bersiap live report hasil rapat komisi yang digelar hari ini. Setahu saya, ada 2 komisi yang sedang melakukan rapat. Kalau tidak salah, komisi III menyoal Ambalat, dan komisi IX menyoal gugatan RS Omni terhadap Prita. Namun, menurut kabar, ada banyak rapat komisi lainnya hari ini. Kabarnya mereka kejar tayang merampungkan segala hal yang belum selesai di akhir masa jabatan mereka sebagai anggota DPR.
Di sini saya benar-benar lupa diri. Terbesit keinginan untuk pindah ke Jakarta dan bekerja sebagai jurnalis di Ibu Kota. Nampaknya ada banyak berita berskala nasional, bahkan internasional, di banyak tempat di Jakarta. Pikiran saya cuman satu, prestise. Nampaknya banyak hal keren yang bisa saya lihat dan saya liput di Ibu Kota.
Untungnya sebelum benar-benar lupa diri, saya sudah benar-benar meninggalkan gedung DPR. Namun, apa yang saya lihat, sedikit tidak saya percayai dan bagi saya benar-benar mengagumkan. Di tengah kemacetan ibu kota, sebuah mobil Camry versi 3.0 berplat RI 5, nampak mengantri bersama mobil-mobil lainnya. Pemandangan yang baru saya temui hingga kala itu.
Bahkan tak jarang, mobil yang saya tumpangi dengan mobil tersebut, berhenti tepat bersebelahan di tengah-tengah keramaian lalu lintas ibu kota. Di dalamnya, nampak 3 orang. Dua orang di depan, dan seorang di belakang yang tengah sibuk menelepon dari dalam mobil. Tanpa pengawalan, tanpa sirine, dan apabila tidak melihat platnya, tidak akan tahu apabila itu adalah mobil seorang menteri. Benar-benar mengagumkan pikir saya.
Selepas dari kemacetan di bilangan Kuningan, Jakarta, mobil yang saya tumpangi langsung mengarah menuju Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). Di tempat yang kumuh tersebut, saya menghadiri sebuah sidang dugaan korupsi seorang petugas KPPU. Ini adalah pengalaman pertama saya mengikuti sidang, terlebih lagi sidang korupsi yang cuman diselenggarakan di gedung tersebut.
Akhirnya, setiap sisi kehidupan memiliki bentuk berbeda. Bila saya melihat Jakarta sebagai tempat yang tidak nyaman setiap kali saya bertandang ke kota ini, kali ini perasaan itu benar-benar tergantikan dengan perasaan lain yang bertolak belakang dengan perasaan saya biasanya. Nampaknya saya perlu belajar untuk mulai tidak menghakimi perasaan saya sendiri terhadap sesuatu hal, meskipun sesuatu hal tersebut nampak eksplisit dengan sifat yang menimbulkan perasaan tersebut. Selalu ada sifat lain yang bisa menimbulkan perasaan lain pula.






